Pembinaan guru-karyawan SD Muhammadiyah 11 Dupak Surabaya diawali dengan murojaah surat Asy Syam dari guru-karyawan. Murojaah dipandu Ustadz Fauzan Muslim, guru Al Islam.

Kegiatan ini  ditempatkan di Aula Al Jadid SD Muhlas, sebutan sekolah ini, yang beralamat di Jl. Dupak Bangunsari 35-41 Surabaya, Sabtu (2/3/2019). Dihadiri 48 guru dan 12 karyawan.

 Kepala Sekolah Irwan SPd MPdI melaporkan, kegiatan pembinaan dilaksanakan setiap bulan. Biasanya pembicara dari guru Al Islam yang sudah senior atau dari Majelis PCM Krembangan.  Kali ini yang menjadi pembicara Wakil Ketua PDM Kota Surabaya Muzayyin Chudori MA.

”Tujuan pembinaan ini diharapkan semua guru karyawan menjadi pendakwah Muhammadiyah yang sebenarnya sesuai dengan keahliannya masing-masing,” tutur Irwan.

Muzayyin menerangkan tentang untuk siswa SD diutamakan pembentukan karakter diri. Bukan penalaran yang dominan. ”Khususnya SD Muhammadiyah harus berani memperkuat hingga 80 persen karakter Islam dan 20 persen nilai pengetahuan umum. Mulai bangun tidur sampai tidur karakter Islam bisa tertanam dijiwa anak didik kita,” katanya.

Dengan cara demikian, sambungnya, siswa secara otomatis kehidupannya diiringi dengan ajaran Islam yang diperoleh di sekolah. “Baik mereka berjalan, berlari maupun tergesa-gesa tetap bernilai Islami,” kata Muzayyin dalam paparannya lewat slide LCD dibuka dengan Al Baqarah : 208.

”Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”

Dari ayat ini, kata dia, disampaikan kata kaffah.  Masuklah Islam secara menyeluruh. Lantas bagaimana cara guru-karyawan Muhammadiyah menjadi kaffah? Dia menjelaskan enam jalan menjadi Islam kaffah.

Pertama, ujar dia, guru sebagai manusia harus beribadah kepada Allah. Ibadah sebagai totalitas dalam kehidupan yang bisa menjadi teladan siswa.

Kedua, jujur. ”Jujur dapat diartikan adil. Menempatkan segala sesuatu harus semestinya mulai dari waktu, tugas, pekerjaan dan tingkah laku,” katanya.

Ketiga, mencari ridho Allah. ”Dalam menjalankan tugas-tugas kita niatkan karena Allah niscaya dunia dan akhiratlah yang akan kita peroleh,” tandasnya.

Keempat, ikhlas. Dalam kondisi berat atau ringan kita niatkan karena Allah, menerima dan siap melaksanakan tugas kita sebagai hamba Allah.

Kelima, guru adalah kholifah. Kholifah bagi siswa, kholifah bagi walimurid, dan kholifah bagi masyarakat. Nantinya dipertanggung jawabkan di hadapan Allah swt. Keenam guru adalah pendakwah. ”Menjadi penyampai kebaikan, menjadi teladan di keluarga dan masyarakat,” kata dia.

Di akhir ceramah, Muzayyin menyampaikan, menjadi guru bukan kebetulan atau disengaja, melainkan karena karunia dari Allah swt. ”Jadi marilah kita syukuri dan janganlah kita bermain-main. Bersungguh-sunguhlah menjadi guru di Muhammadiyah,” tandasnya. (Muriyono)

Guru Muhammadiyah Diminta Kaffah, Begini Caranya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *